Sabtu, 07 Juli 2012
Bidadari Senja
Aku bermimpi menjadi mawar ditaman asmara Terlihat bidadari khayangan turun menabur benih cinta dalam lubuk hatiku Kedatangannya sangat menyentuh saat dia memasuki ruang hidupku yang hampa Harapanku dipetiknya dengan senyum senja yang terlukis dilangit sana Aku dibawanya mengelilingi samudra impian sambil menari diatas rembulan Kini dia menghilang bersama gemerlap bintang Tak ada kata yang terucap maupun salam yang kau berikan padaku Hanya angin yang membawaku pada kenangan yang tak terlupakan
Lilin Pelajar
Lilin menyala membakar gelap seperti awal semangat tiada putus asa Hatinya berkobar-kobar seperti api yang membesar melelehkan tubuh sucinya Kebesarannya sering tergoda angin gulita seperti dinodai jaman yang terus memakannya Redupnya api bagaikan simbol keputusasaan yang tak terlupakan
Pengorbanan Ayah

Pedagang Kaki Lima
Pinggiran jalan berbaur debu terik Kau gelar karpet kehidupan diatas harmoni kota metropolitan Dengan macam penghasilan yang beragam Kau menunggu rejeki dari lintas kaki lewat serta tatap menunduk ke bawah Dilihatnya saja sudah memberikan pilihan untuk mendapat atau bersabar lagi Belum lagi pasukan berkerah hijau yang berontak ke pinggiran Tak ada kata kapok atau menyesal Yang terpenting hanya keuntungan dan keuntungan Dari sosokmu yang keras seolah kau menyampaikan pesan moral Bahwa hidup ini Keras .
Langganan:
Postingan (Atom)


